GREAT EXPERIENCE

Bisa ikut reefcheck bareng dengan orang peh baluran

Merupakan pengalaman pertama yang bisa di bilang the largest experience for me. Bagaimana tidak, bisa menyaksikan secara langsung coral yang demikian indah. Meski aku belum pernah melihat taman laut bunaken atau gugusan karang di coral triangle kawasan segitiga karang terbaik di dunia, bagi saya yang g bisa renang, amat sangat pemula dalam snorkeling, bisa nyelam barang beberapa detik, melihat keindahan ciptaan beliau, dan tanpa biaya sepeserpun, apa itu bukan keajaiban??. Bukan hanya pengalaman snorkel saja, perjalanan menuju lokasi juga tak kalah indahnya. Aku yakin waktu itu Sang Khalik khusus menghadiahkan hari itu untukku.

Semuanya bermula dari keinginan teman-teman untuk bergabung dalam tim peneliti PEH baluran sabagai ajang belajar tentang karang. Sekedar tahu saja untuk melaksanakan penelitian karang, selain tidak memiliki kemampuan yang memadai, dana dan peralatan juga tidak memungkinkan. Oleh karena itu tawaran dari pak Swiss, salah satu tim Reefcheck disambut dengan baik.

Namun karena beberapa hal, teman-teman mengurungkan niatnya dan akhirnya saya berangkat sendiri. Sesampai di Baluran tim telah berangkat sejak pagi, sehingga saya harus menyusul keesokan hari. Senin sore kami berangkat dengan menggunakan motor. Perjalanan melintas jalur utama Batangan-Bekol-Bama. Jaraknya kurang lebih sekitar 15 kilo. Sesampai di Bama, motor diganti dengan motor khusus untuk menempuh jarak antara Bama-Bilik.Ya,.lokasi reef check di pantai Bilik. Aneh ya,bilik itu bukannya nama lain dari kamar??

Setelah motor di iisi bahan bakar secukupnya, mempersiapkan peralatan, kemudian kami melakukan ritual, maksudnya sholat Ashar. Setelah berdoa agar semuanya berjalan dengan lancar, selamat sampai tujuan, perjalanan pun di mulai. Saya menyebutnya welcome to the jungle.

Oya sekilas info, sebelumnya saya sudah pernah ke baluran, namun daerah jelajah saya hanya sampai pantai Bama saja. Itupun karena memang lokasi kkl di tempat tersebut. Tapi bagi saja melihat sunrise di Bama menjadi salah satu persembahan Maha dasyat dari Sang Maestro.

Dan ternyata itu belum seberapa, ternyata saya belum mengenal Baluran yang sesungguhnya. Sangat-sangat tidak mengenal Baluran. Sepanjang perjalanan kami menerobos barisan bakau yang demikian rapat, sehingga beberapa kali, saya harus membungkukkan badan ke depan agar wajah tidak tersapu oleh daun mangrove yang mungkin ingin menyapa.

Setelah barisan bakau, berganti dengan barisan perdu, serta jajaran pohon buta, mengapa demikian??. Menurut pak Swiss yang sempat menjelaskan meski sambil berkonsentrasi menyetir, getah pohon mampu membuat buta bola mata kita sehingga tidak berfungsi sebagaimana mestinya..Iih ngeri. Namun suara Cekakak sungai, bahkan entah suara burung apa lagi, mungkin kalau untuk pengamat burung sekelas Bas van Ballen dalam hitungan detik akan teridentifikasi cukup membuat saya terbuai, mereka bernyanyi mengiringi kedatangan kita,seolah-olah menyambut dan ingin menjamu sebaik-baiknya. Sekaligus ingin memberitahukan bahwa mereka bahagia di alam bebas, tanpa sangkar yang membatasi ruang geraknya. Mereka demikian manusiawi, lalu bagaimana dengan kita?

Jalanan yang kami lalui mulai terjal, untung saja motor perkasa itu tetap tangguh melibas semuanya. Dan tempat apa lagi ini, setelah sekian lama punggung merunduk, menghindari ranting dan daun yang mendominasi jalan, tiba-tiba tersibak di depan mata, laksana sang pesulap yang membuka tabir untuk memulai atraksinya, kami disuguhkan lembah. Lembah Balanan yang menyihir.

Aku terpana seketika. Tanah berpasir didepan mata, berhias pohon-pohon disana sini, mirip dengan kepala yang mulai botak dengan rambut di setiap sudutnya. Belum hilang ketakjubanku, angin kering yang menerpa membawa ratusan burung yang entah darimana asalnya.. amat sangat cantik yang bernama kirik-kirik laut Balanan

Untuk pertama kalinya aku melihat burung yang demikian banyak, terbang tak jauh di depanku, bahkan mengikuti lambaian kerudungku. Aih.. lukisan terbang itu tak henti-hentinya mengembangkan bulunya yang biru, dadanya yang hijau timbul tenggelam. Jika bukan Beliau yang menciptakannya, pasti kedua warna itu takan berpadu seindah itu.

Dibalik lembah, sang surya yang menari gemulai menyapukan warnanya ke langit dari kemerahan lambat laun menjadi jingga. Jingga yang tenang dan mendamaikan. Sepertinya aku terlalu ngelantur, apakah mungkin ada tempat seindah itu?. Datanglah sendiri kesana.

Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama menikmati bola api itu hingga terlelap di punggung bukit nun jauh di barat sana, tapi pasti akan terlalu malam untuk melanjutkan perjalanan. pemandangan berubah menjadi perkampungan penduduk dengan aktivitasnya yang khas perkampungan nelayan dan peladang. Ada yang menyiangi rumput, bertanam jagung, ada pula yang sibuk mencari kutu di rambut tetangga, juga bapak tua yang dengan penuh kasih memberikan pakan untuk ternaknya.

Hei,,benarkah ini Baluran, sebuah taman nasional yang ku anggap dan tertanam dalam otakku sekian lama sebagai kawasan yang steril, kawasan yang hanya hewan dan tumbuhan saja yang menghuni..rasanya tak masuk diakal aneh sekali…

tapi begitulah adanya…ternyata di beberapa kawasan Taman Nasional, bahkan di dunia…penduduk yang telah menetap beruluh-puluh tahun diperbolehkan untuk tetap tinggal, asalkan tetap menajga keseimbangan dan tidak mersak ekosistem yang ada.

Bahkan beberapa taman Nasional seperti taman nasional di Afrika penduduk lokal diajak berpartisipasi menjadi agen wisata saat touris mancanegara berkunjung sekaligus sebagai agen konservasi yang menjaga kehati yang menghampar didalamnya.

Ternyata Baluran semakin terwarnai dengan adanya perkampungan di tengah-tengah kawasan konservasi bahkan sempat terlihat beberapa genting rumah dihiasi dengan antena parabola.

Usai episode Balanan..berganti dengan perbukitan terjal dengan karang yang curam..dikiri kanan Mimosa yang berduri. Motor mulai menggeram…dan saat kita berada tepat diatas bukit…

Subhanallah..hilang akal sehatku.,berganti dengan ketakjuban tiada tara. Aku lemah dalam arah…tapi aku melihat di satu sisi gunung Baluran, kemudian laut yang bertemu dengan awan, disis lain aku melihat langit bersih tak berjerawat.dan di depanku.. panorama unggulan terhamar teluk yang bernama Labuhan Merak…

Kembali mulutku terbuka lebar…YA Allah,..keindahan ciptaanMU layaknya sinetron kejar tayang

Ingin menunjukkan padaku bahwa apa sih yang kau tentang Baluran??

Dan aku pun berteriak……. aku menyaksikan teluk dnegan air yang bergradai dari biru menjadi hijau,,semakin ke darat semakin hijau…aku melihatnya dari atas,.seolah-olah akulah penguasa yang melaksanakan inspeksi, melihat negeriku dari seluruh penjuru.

Terfikir olehku..Bagaimana caranya agar semua orang bisa melihat secuil surga ini??

Labuhan merak usai diiringi dengan sayup-sayup adzan magrib bergema..kami terjebak dalam padang ilalang..

Sesekali kami berpapasan dengan penduduk yang entah dari mana.

Terhanyut dalam kesenyapan akan keagungan dan ketidakberdayaan. Saya sangat-sangat menikmatinya.

Setelah terjadi insiden tersesat berkali-kali, akhirnya kami menemukan Resort Bilik. Anggota PEH lain telah hadir di sana. Terlihat Bu Tiwi sedang sibuk menganalisis data coral hari itu.

Saat pagi menjelang aktivitas dimulai dengan sarapan, mengisi organ pencernaan sebagai cadangan ATP untuk bekal aktivitas. Sarapan usai.. senam pun dimulai.. di pimin oleh pak Siyanto. Kami semua berbaris berbanjar untuk mulai menggerakkan tangan dan kaki, melemaskan otot-otot dan persendian, agar saat menyelam nanti terhindar dari kram. Peralatan diangkut ke akpal, termasuk perbekalan makan siang

Kami mulai berangkat menuju lokasi. Dengan bantuan GPS, dengan mudah kami menemukan titik pengambilan data kemarin. Hari ini rencananya menyelesaikan spot penelitian kemarin. Metode inventarisasi dilakukan dengan menggunakan metode transek. Pak Dikar, pak siyanto dan beberapa penyelam lain mulai memasang Roll meter sebagai garis transek. Selain pengukuran keanekaragaman, juga dilakukan pengukuran penutupan karang dan asosiasi dengan fauna di sekitar koloni karang. Persentase tutupan karang di hitung dengan mengukur intersep koloni karang yang terlewati oleh garis transek.

Sesekali juga dilakukan pengambilan sampel ikan dalam hal pengamatan asosiasinya. Beberapa ditemukan spesies ikan chaetodon dan amphiprion. Jenis karang yang ditemukan langsung di tulis dengan menggunakan simbol. Misalnya ACT adalah singkatan dari Acropora Tubular.

Inventarisasi dilakukan dalam beberapa kedalaman mulai 5 meter hingga 20 meter. Lokasi inventarisasi juga berpindah-pindah, beberapa anggota EH yang lain memoter terumbu dari bottom glass perahu. Semuanya bekerja sambil diiringi sebaluran-face21nda gurau.. hmm Nice…

Saat itu yang saya ingat pengalaman snorkeling pertama yang fantastis. Melihat puluhan ikan menyembul dari balik gugusan karang berwarna-warni.

Karang dengan wana hijau, biru, ungu dan agak kekuningan mengingatkan saja akan iklan sebuah televisi dimana seorang penyelam memberikan kode dengan ibu jarinya untuk menunjukkan bahwa dunia bawah laut sangat indah. Penelitian diakhiri saat surya mulai bergeser menuju tepat di ubun-ubun. Semua penyelam naik ke kapal dan kembali menuju daratan.

Dari Berbagai sumber dan pengalaman pribadi

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.